Ada kesalahan di dalam gadget ini

Rabu, 09 Februari 2011

Kesetaraan Doa dan Usaha Oleh : K.H. Tohri Tohir

Kaji kita kali ini untuk meningkatkan Iman dan Taqwa kepada Allah SWT. Karena dua hal inilah, Iman dan Taqwa yang mewarnai dinamika ibadah kita kepada Allah. Iman secara batin, Taqwa secara lahir. Sebab dalam kehidupan ada batin dan ada lahir, sama kalau kita relevansikan hal ini dengan do'a dan usaha. Do'a tanpa usaha sama dengan sia-sia, sebaliknya usaha tidak dibarengi do'a kurang berkah. Karena Iman secara batin maka sulit dilihat, sebab adanya didalam sanubari, yang tampak adalah Taqwanya. Loud speaker ini ada suara karena ada stroomnya.

Kita semua tidak bisa melihat stroomnya, tapi bisa merasakan dan dapat mengambil manfaat dari adanya strum tersebut, seperti mendengar suara dari speaker yang dijalankan oleh stroom. Iman pun demikian. Iman orang itu tak mungkin bisa kita lihat, yang bisa kita lihat adalah taqwanya, ibadahnya, shalatnya, zakatnya, dan hajinya itu yang tampak. Begitulah kira-kira ibadah seseorang itu, digerakkan dari batin, yang tampak lahirnya.

Saya relevansikan tadi dengan do'a dan usaha, untuk mengisi Iman dan taqwa. Dengan Iman kita berdo'a, dengan taqwa kita berusaha. Do'a, usaha untuk merealisasikan Iman dan Taqwa supaya mudah mengingat rangkaiannya, disingkat " DUIT ", termasuk membina dan membentuk keluarga, do'a dan usaha harus dijalankan. Didalam Al Qur'an nul karim diajarkan olah Allah SWT tiga macam do'a khusus untuk keluarga, banyak do'a di Al Qur'an, semuanya ada 66 ayat, dari 66 ayat ini ada tiga do'a yang khusus untuk keluarga.

Pertama di surat Al-Imran ayat 38, yang kedua di surat Ibrahim ayat 40, yang ketiga di surat Al-Furqan ayat 74, inilah konsep do'a yang diajarkan Allah SWT, didalam Al Qur'an untuk membentuk dan membina keluarga yang bahagia, sejahtera, aman dunia dan akhirat.

Yang pertama didalam surat Al-Imran ayat 38 :

" Disanalah Zakaria berdo'a kepada Tuhannya seraya berkata " Tuhan, karuniakanlah kepada ku keturunan yang baik dari Engkau, Engkau Maha mendengar segalah do'a ".

Jadi bapak dan ibu harus meminta kepada Allah supaya diberi anak ( keturunan ) yang baik.

Yang kedua didalam surat Ibrahim ayat 40 :

" Tuhan-ku ! jadikanlah aku orang yang tetap mendirikan sholat, juga diantara keturunanku, Ya Tuhan kami ! Kabulkan do'a ku " !

Kalau yang pertama tadi meminta keturunan yang baik, yang kedua meminta ahli ibadah supaya yang baik tadi menjadi benar, karena banyak orang baik belum tentu benar, yang kita minta yang baik dan yang benar.

Dalam do'a diatas yang kita minta adalah ahli ibadah ( mendirikan sholat ) sebab pokok ibadah adalah sholat, karena jenis ibadah yang lain kalau dihitung akan banyak sekali, bahkan tidak akan terhitung, dalam hal ini sholat adalah ibadah paling pokok dan menentukan.

Yang ketiga, do'a buat keluarga ada didalam surat Al-Furqan ayat 74 :

" Dan orang-orang yang berkata : " Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati ( kami ), dan jadikanlah kami Iman bagi orang-orang yang bertaqwa ".

Berilah kami anak yang Qurrata'ayunin, atau yang selalu menyenangkan hati, nikmatnya bukan main kalau kita punya keluarga atau anak yang Qurrata'ayunin itu. Bapak meminta dengan Allah supaya mempunyai isteri dan anak yang menyenangkan hati, menyejukan perasaan, menentramkan pikiran, pengertian kata Qurrata'ayunin itu sangat luas.

Tiga macam do'a diatas itu, supaya mudah membacakannya, kita jadikan saja satu paket, tiap baca do'a, baca ketiganya sekaligus. Do'a ini memiliki maksud yang luas dari Allah. Do'a sudah, tinggal usahanya, bagaimana usahanya ? kita lihat dahulu bagaimana jalur Taqwa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, merealisasikan ayat Qu anfusakum wa ahli-kum naro. Menjaganya adalah dengan Taqwa, makanya membina manusia itu tidak bisa seperti metode ilmu fikih, kalau metode Fikih, yang halal dimakan, yang haram dibuang. Tapi membentuk dan membina keluarga memakai metode Tasawuf, yang baik dipelihara, yang jelek diperbaiki, jadi kalau punya anak atau suami/ isteri jelek dan nakal, jangan dibuang, tapi diperbaiki. Perintah memperbaiki ini dalam Islam bukan ketika ditengah jalan, tapi sejak dari awal, coba lihat do'a tadi diatas, do'a itu berlaku untuk masa kelahiran, sebelum kelahiran dan setelah kelahiran.

Belum punya anak sudah meminta anak yang baik, mungkin kita terlambat dengan do'a ini, tidak apa-apa daripada tidak sama sekali, sebab ini do'a Nabi Zakaria. Beliau berdo'a sebelum punya anak, sampai anak lahir, beliau masih tetap berdo'a. usaha membentuk anak yang baik, harus mengikuti ajaran Rasulullah, kata Rasul, begitu anakmu lahir, bacakan Adzan ditelinga kanan, kumandangkan Iqamat ditelinga kirinya.

Memang betul Adzan untuk memanggil orang sholat, kalau ditempatkan diwaktu sholat, menurut Tafsir Ibnu Abbas, kalimat Adzan itu ada tujuan masing-masing, yang tergantung waktu kapan dan dimana dikumandangkan, kita lihat zaman Nabi Muhammad SAW, subuh satu jam sebelum datang waktunya dikumandangkan Adzan, begitu tiba waktu subuh, Adzan lagi yang kedua kalinya. Pertama Bilal yang Adzan, kedua Ibnu Maktum.

Tujuan Adzan yang pertama untuk membangunkan orang yang sedang tidur. Adzan yang kedua sebagai pemberitahuan bahwa waktu sholat subuh sudah datang, Utsaman bin Affan r.a, mengumandangkan Adzan Jum'at dua kali. Pertama, lebih kurang satu jam sebelum waktu Jum'at datang. Adzan ini dikumandangkan ditengah pasar, maksudnya untuk mengingatkan orang yang sedang berdagang, baru Adzan yang kedua masuk waktu Jum'at di Masjid.

Jadi kalau kita mencermati kejadian-kejadian ini, berarti tujuan Adzan itu dimana ditempatkan disitu ada maksud. Waktu perang Rasulullah memerintahkan Adzan untuk memohon kemenangan kepada Allah. Adzan disini sebagai rasa syukur kepada Allah karena kebesaran Allah mendapat karunia ( anak ), maka ungkapan syukurnya adalah dengan membesarkan Allah, karena anak adalah karunia dari Allah.

Kalau kita teropong lebih jauh, tiap diri manusia " didampingi oleh setan ". Setan ini sebelum manusia berkembang banyak, dia meminta kepada Allah. Permintaannya antara lain: "Wahai Tuhanku, anak Adam kau beri rumah, maka berilah aku rumah. Kata Allah rumahmu kamar mandi. Makanya Nabi Muhammad mengajarkan ke kamar mandi ada do'a, karena ia rumah setan, anak Adam kau beri tempat duduk, maka beri aku tempat duduk. Kata Allah, tempat dudukmu di pasar-pasar. Makannya mau masuk pasar diajarkan berdo'a, karena ia tempat nongkrongnya setan. Anak Adam kau beri kitab sebagai pedoman dan petunjuk. Kitabmu kata Allah adalah syair-syair lagu yang menyesatkan. Makanya kalau kita telah menyimak lagu-lagu barat yang sensual dan lagu Dangdut yang erotis asyiknya bukan main. Sampai lupa semuanya. Tapi setan akan kabur terbirit-birit kalau mendengar adzan. Ini antara lain manfaat Adzan. Setelah dikumandangkan Adzan kepada bayi yang baru dilahirkan, kata Rasulullah, beri dia makanan yang halalan thayyiban ( yaitu air susu ibu ).

Yang ketiga memberi nama, berilah nama yang bagus, yang ada identitas Islamnya, sebab kata Nabi, nama itu mempengaruhi kepribadian seseorang. Islam tidak kekurangan nama, sumber atau rujukan nama bisa dari nama Allah, nama Nabi, nama Rasul, nama sahabat Nabi, nama dari Wali, dari ayat Al Qur'an, pokoknya sumber pengambilan nama didalam Islam tidak akan penah habis, saking banyaknya. Persoalannya, mungkin kita belum mengenal nama-nama dari Islam itu. Memberi nama yang baik kepada anak, sesuai dengan permohonan kita kepada Allah, seperti tertera dalam do'a yang berasal dari ayat Al Qur'an diatas, ini sebagai langkah usaha.

Kewajiban yang keempat mengaqiqahkan anak sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah. Dua ekor kambing kalau laki-laki, seekor kambing kalau anak perempuan. Aqiqah tidak terikat oleh waktu, berbeda dengan Qurban, Aqiqah kapan saja dikerjakan asal anaknya belum akil baliqh. Memang utamanya dimasa kelahiran, hari ketujuh, kalau kita mendidik anak dimulai dengan cara-cara seperti yang diajarkan Rasulullah, insya Allah kita digolongkan sebagai orang yang selalu bersyukur, Iman itu kata Nabi memiliki dua sisi, sisi yang kesatu sabar, sisi kedua syukur.

Sekarang bukan lagi mensyukuri anak karena ia baru lahir, tapi mensyukuri nikmat yang lebih jauh dan panjang lagi, ya rezeki, ya usaha dll. Hakikat syukur itu kalau menurut Imam Ghazali orang yang mau bersyukur itu ada tiga syarat.

Pertama, mengenal nikmat, artinya : yakin nikmat itu datangnya dari Allah.

Kedua, mengetahui manfaat nikmat, kita sering lupa akan kemanfaatan nikmat. Kita tidak selalu ingat nikmat mata untuk apa, nikmat telinga untuk apa, nikmat memiliki gigi untuk apa, jarang kita menyadari kemanfaatan pemberian-pemberian Allah yang sangat berharga dan tak tergantikan itu. Kita suka ingat kalau sebagian kecil dari pemberian-pemberian Allah itu sudah berkurang fungsinya karena terkena penyakit atau mengalami gangguan, misalnya, yang ketiga, orang menggunakan nikmat itu sesuai dengan kehendak yang memberi nikmat, ini yang paling repot, karena umumnya manusia, menggunakan nikmat Allah kepada tujuan yang tidak sesuai kehendak-Nya. Seharusnya artinya : semua pemberian Allah ini digunakan sesuai kehendak Allah, memperoleh rezeki, gunakanlah sesuai kehendak Allah.

Kembali ke do'a kedua, untuk dapat menjalankan kewajiban sholat ini, maka kewajiban dimasa kanak-kanak, berilmu anak-anak karena ilmu yang akan menuntun perbuatan dia. Jadi dalam hal ini orang tua punya kewajiban meyekolahkan anaknya. Kata Nabi, tidak ada yang paling utama pemberian orang tua kepada anak selain pelajaran akhlak yang baik sejak kecil. Pendidikan lain, ajari anakmu sholat sejak umur tujuh tahun. Petunjuk mendidik anak ini sesuai do'a tadi diatas agar kita memperoleh keturunan yang baik.

Cara mengajari anak mengerjakan sholat yang baik, sesusai dengan do'a diatas, adalah berbuat dulu kedua orang tuanya, baru anak mengikuti apa yang diperbuat oleh kedua orang tua mereka. Jadi kalau kita menyuruh anak sholat, mutlak mesti kita orang tua dulu yang mengerjakan sholat, baru bisa menyuruh anak sholat. Mau menyuruh anak mengaji, mesti orang tuanya dulu mengaji. Yang namanya anak berumur tujuh tahun ini apa yang dilihat dan didengar, dominan diikuti. Apa yang dilihatnya diteve, dia ikuti dengan semangat. Dalam hal pelaksanaan beribadah kepada Allah, anak umur tujuh tahun kalau melihat ayah dan ibunya mengerjakan sholat atau membaca Al Qur'an, dia akan mengikuti apa yang dikerjakan oleh orang tuanya. Jadi dengan anak kecil tidak perlu menggunakan dalil-dalil.

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan metode mengajar ada tiga. Pertama untuk orang pintar, bil hikmah, dengan dalil. Buat orang yang sedang, pintar tidak, dibilang bodoh tidak bisa, dengan pengajaran yang baik. Dengan anak-anak yang masih kosong dengan bermujadalah dengan baik, yaitu : lebih banyak perbuatan ketimbang ucapan. Berikan contoh kepada murid model begini. Jangan menggunakan dalil, karena belum tentu mereka mengerti dalil. Mungkin malah bisa menimbulkan salah paham gara-gara dalil. Karena itu, kepada mereka, yang paling tepat adalah memperlihatkan banyak contoh amal baik agar ditiru dan diikuti. Inilah antara lain bentuk-bentuk usaha mendidik anak agar kita melahirkan keturunan yang baik, sesuai permintaan dan do'a kita kepada Allah, sebagaimana yang tercantum didalam tiga buah do'a yang menjadi satu paket diatas.

Shalat dan Doa untuk Orang Tua

Shalat untuk Orang Tua
Shalat untuk orang tua (shalat birrul walidayn) adalah shalat untuk berbakti kepada kedua orang tua. Shalat ini dilakukan oleh anak untuk kedua orang tuanya, untuk mewujudkan kebarbaktian kepada mereka, baik mereka masih hidup atau telah berpulang ke hadirat Allah swt

Rasulullah saw pernah ditanyai: “Siapakah yang paling besar haknya terhadap seseorang?” Beliau menjawab: “Kedua orang tuanya.” Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya saat mereka masih hidup, tetapi setelah mereka meninggal ia tidak memohonkan ampunan untuk mereka, maka ia dicatat sebagai anak yang durhaka kepada keduanya. Dan sesungguhnya anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya saat mereka masih hidup, tapi sesudah mereka meninggal ia memperbanyak istighfar untuk mereka, maka ia dicatat sebagai anak yang berbakti.” (Al-Mustadrak 2:112).

Shalat ini diajarkan oleh Rasulullah saw dan keluarganya. Shalat ini dilakukan dua rakaat dengan niat untuk berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua. Caranya:
Rakaat pertama: sesudah surat Fatihah membaca surat Ibrahim/14: 41 (10 kali) yaitu:

Rabbanaghfirlî wa li-wâlidayya wa lil-mu’minîna yawma yaqûmul hisâb.
Ya Tuhan kami, ampuni aku dan kedua orang tuaku serta orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).

Rakaat kedua: sesudah surat Fatihah membaca surat Nuh/71: 28 (10 kali) yaitu:
Rabbighfirlî wa li-wâlidayya wa liman dakhala baytî mu’minan wa lil-mu’minîna wal mu’minât.

Ya Tuhanku, ampuni aku dan kedua orang tuaku, dan orang yang masuk ke rumahku dengan beriman, serta seluruh mukminin dan mukminat.

Setelah salam membaca doa berikut 10 kali
Rabirhamhumâ kamâ rabbayanî shaghîrâ.
Ya Tuhanku, kasihani mereka berdua sebagaimana mereka mendidikku di
waktu aku kecil.
(Mafâtihul Jinân, bab 2, halaman 215)

Yang berminat tek arab ayat-ayat Al-Qur’an tersebut, silahkan mengkopi dari milis “Keluarga Bahagia” atau milis “Shalat-doa” berikut ini.

Doa untuk Orang Tua

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad hamba-Mu dan rasul-Mu dan ahli baitnya yang suci, istimewakan mereka dengan yang paling utama dari rahmat-Mu, kasih-Mu, kemuliaan-Mu dan kedamaian-Mu

Ya Allah
istimewakan juga kedua orang tuaku dengan kemuliaan di sisi-Mu dan rahmat-Mu wahai Yang Paling Pengasih dari segala yang mengasihi

Ya Allah
Sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya
Ilhamkan kepadaku ilmu tentang kewajibanku
Gabungkan bagiku seluruh ilmu itu secara sempurna
Gerakkan aku untuk mengamalkan apa yang Kau ilhamkan kepadaku
Bimbinglah aku untuk melaksanakan pengetahuan yang telah Kau tunjukkan kepadaku
Sehingga
aku tidak kehilangan waktu untuk mengamalkan apa yang telah Kau ajarkan kepadaku
dan anggota badanku tidak berat untuk melakukan apa yang telah Kau ilhamkan kepadaku

Allah
Sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya sebagaimana telah Kau muliakan kami dengannya
Sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya sebagaimana telah Kau wajibkan bagi kami hak terhadap makhluk-Mu karenanya

Ya Allah
Jadikan takut kepada kedua orangku seperti takut akan penguasa zalim, dan berbuat bajik kepada keduanya dengan kebajikan ibu yang penyayang
Jadikan ketaatanku kepada kedua orang tuaku dan kebajikanku kepada mereka
lebih menenteramkan hatiku dari tidur kepada orang yang mengantuk
lebih menyejukkan hatiku dari seteguk air bagi yang kehausan
Sehingga
aku dahulukan kehendak mereka di atas kehendakku
aku utamakan ridha mereka di atas ridhaku
aku anggap banyak kebajikannya walaupun sedikit
dan aku anggap sedikit kebajikanku walaupun banyak

Ya Allah
Indahkan kepada mereka ucapanku
Haluskan kepada mereka tabiatku
Lembutkan kepada mereka hatiku
Jadikan aku orang yang sangat mencintai mereka

Ya Allah
Balaslah kebaikan mereka karena telah mendidikku
Berikan ganjaran kepada mereka karena telah memuliakanku
Jagalah mereka sebagaimana mereka memeliharaku pada masa kecilku

Ya Allah
untuk setiap derita yang menimpa mereka karenaku
untuk setiap hal yang tidak enak yang mengenai mereka karenaku
untuk setiap hak mereka yang aku abaikan
jadikan semua itu penghapus terhadap dosa mereka
ketinggian derajat mereka
kelebihan dalam kebaikan mereka
Wahai Yang Mengubah keburukan dengan kebaikan secara berlipat ganda

Ya Allah
untuk setiap pembicaraan mereka yang melanggar batas terhadapku
untuk setiap perbuatan yang berlebihan terhadapku
untuk setiap hak-ku yang mereka lalaikan
untuk setiap kewajiban terhadapku yang mereka abaikan
semua sudah aku berikan kepada mereka dan aku ikhlaskan atas mereka
dan aku tidak membenci mereka cara mereka memperlakukanku,

Ya Allah
mereka mempunyai hak terlalu besar dari diriku
kebaikan yang terlalu utana terhadapku
perberian yang terlalu banyak bagiku
sehingga aku tidak dapat membalasnya dengan adil atau memberikan kepada imbalan sepadan

Duhai Tuhanku
bagaimana harus kubalas budi mereka
lamanya kesibukan mereka untuk mengurusku
beratnya kelelahan mereka menjagaku
dan penanggungan mereka akan kesempitan untuk memberikan keleluasaan bagiku

Aduhai
Aku tidak akan bisa memenuhi hak mereka terhadapku
Aku tidak mampu melaksanakan kewajibanku kepada mereka
Aku tidak sanggup menjalankan kewajibanku untuk berkhidmat kepada mereka
Maka, sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya
Bantulah aku
Wahai Yang Paling baik untuk dimintai bantuan
Bimbinglah aku
Wahai Pembimbing yang dirindukan
Jangan jadikan aku orang yang durhaka kepada ayah bunda
pada hari ketika setiap diri dibalas karena hasil kerjanya dan mereka tidak dianiaya

Ya Allah
Sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya
Istimewakan kedua orang tuaku dengan yang paling utama dari apa yang Kau istimewakan kepada orang tua wahai Yang Paling Pengasih dari segala yang mengasihi

Ya Allah
Jangan biarkan aku lupa untuk menyebut mereka sesudah shalatku
pada saat-saat malamku, pada saat-saat siangku

Ya Allah
Sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya
Ampunilah aku dengan doaku kepada mereka dengan ampunan yang sempurna
Ampunilah kedua orang tuaku dengan kebaikan mereka padaku
Ridhailah mereka dengan syafaatku untuk mereka dengan keridhaan yang paripurna
Sampaikan mereka dengan anugerah-Mu kepada tempat-tempat kesejahteraan

Ya Allah
Jika ampunan-Mu lebih dahulu datang kepada mereka,
izinkan mereka untuk memberi syafaat kepadaku
Jika ampunan-Mu lebih dahulu sampai kepadaku,
izinkan aku untuk memberi syafaat kepada mereka
Sehingga dengan kasih sayang-Mu kami berkumpul di rumah-Mu yang mulia
di tempat ampunan dan kasih-Mu
Sungguh Engkau Pemilik karunia yang besar dan anugerah yang abadi
Engkaulah Yang maha Pengasih dari semua yang pengasih.
(Ash-Shahifah As-Sajjadiyah, doa ke 24)

DOA NABI IBROHIM AS SAAT SAKIT SURAT ASY-SYUARA 26 : 80

Wa idzaa maridhtu fahuwa yasyfiini
Artinya :
Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan Aku,

DOA NABI AYYUB AS SAAT SAKIT SURAT AL-ANBIYA 21 : 83

Robbii annii massaniyadh dhurru wa anta arhamur roohimiin.
Artinya
Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang
Maha Penyayang di antara semua Penyayang.

Doa untuk Ibu Bapak / Orang Tua

Sesungguhnya jasa orang tua kita tidak terhitung banyaknya. Ibu kita mengandung selama 9 bulan kemudian melahirkan kita dengan resiko nyawa melayang. Ketika kita masih bayi tak berdaya, mereka beri kita minum dan makanan. Ketika kita buang air, tanpa jijik mereka membersihkan kita dengan penuh cinta. Kita diberi pakaian dan juga pendidikan.

Mereka sabar menghadapi kemarahan kita, rengekan, kenakalan, bahkan mungkin ketika kita masih kecil/balita pernah memukul mereka. Mereka tetap mencintai kita. Jadi jika kita merasa kesal dengan mereka, apalagi jika mereka begitu tua sehingga kelakuannya kembali seperti anak-anak, ingatlah kesabaran mereka dulu ketika menghadapi kita. Bagi yang sudah memiliki anak tentu paham tentang kerewelan anak-anak yang butuh kesabaran yang sangat dari orang tua.

Adakah kita mampu membalasnya? Bahkan seandainya orang tua kita tak berdaya sehingga untuk buang air kita yang membersihkannya, itu tidak akan sama. Orang tua membersihkan kita dengan penuh cinta dan harapan agar kita selamat dan panjang umur. Sementara si anak ketika melakukan hal yang sama mungkin akan merengut dan bertanya kapan “ujian” itu akan berakhir.

Begitulah. Seperti kata pepatah, “Kasih anak sepanjang badan, kasih ibu sepanjang jalan” Tidak bisa dibandingkan.

Oleh karena itu hendaknya kita berbakti pada orang tua kita. Minimal kita mendoakan mereka:

Apabila anak Adam wafat putuslah amalnya kecuali tiga yaitu sodaqoh jariyah, pengajaran dan penyebaran ilmu yang dimanfaatkannya untuk orang lain, dan anak yang mendoakannya. (HR. Muslim)

Jika kita tidak berdoa untuk orang tua kita, maka putuslah rezeki kita:

Apabila seorang meninggalkan do’a bagi kedua orang tuanya maka akan terputus rezekinya. (HR. Ad-Dailami)

Oleh karena itu sebagai anak yang berbakti hendaknya kita senantiasa berdoa untuk ibu bapak kita. Di antara doa-doa untuk orang tua yang tercantum dalam Al Qur’an adalah sebagai berikut:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:

doa4.jpg

Robbirhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo

“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” [Al Israa’:24]

doa1.jpg

Robbanaghfir lii wa lii waalidayya wa lilmu’miniina yawma yaquumul hisaab

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” [Ibrahim:41]

doa5.jpg

Robbighfir lii wa li waalidayya wa li man dakhola baytiya mu’minan wa lilmu’miniina wal mu’minaati wa laa tazidizh zhoolimiina illa tabaaro

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.” [Nuh:28]

doa6.jpg

Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”

Mudah-mudahan kita bisa mengambil manfaat dari ilmu yang kita dapat dengan mengamalkannya setiap hari. Amiin.

Ayat al-Quran, doa tangani kerenah anak Bicara Kalbu: Ayat al-Quran, doa tangani kerenah anak

DALAM ruangan ini beberapa minggu lalu, puan ada memberikan panduan dalam menangani kerenah anak, antaranya membaca beberapa ayat al-Quran dan zikir. Bolehkah dijelaskan ayat dan zikirnya.

Ibu Ingin Tahu,

Klang, Selangor.

Doa memainkan peranan penting dalam pembentukan sebuah keluarga bahagia dan baiti jannati. Sebagai ibu bapa kita perlu sentiasa mendoakan kesejahteraan anak.

Semua kata-kata, keyakinan, doa, harapan dan impian ibu bapa adalah sebenarnya doa dan akan terkesan ke dalam jiwa anak. Doa mestilah disusuli dengan tindakan yang hikmah dalam cara kita membentuk peribadi anak.

Di sini, saya ingin berkongsi doa yang biasa amalkan dalam menangani kerenah anak sendiri dan anak jagaan di taska dan tadika. Ia adalah kumpulan doa yang banyak saya petik hasil daripada pembacaan selama ini, terutama daripada Nasiyah Abdul Razak, pengasas Rumah Qiraati Nurhidayah, Taman Melawati Selangor.

Untuk membantu anak mudah belajar dan menelaah pelajaran, baca zikir Ya-Latif sebanyak 129 kali diikuti ayat 19, surah as-Syura bermaksud: “Allah Maha Lembut kepada hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada sesiapa yang Dia kehendaki, dan Dialah Yang Maha Kuat, lagi Maha Kuasa.”

Sebaiknya dibaca selepas Subuh iaitu dibaca pada pada air pada semua botol air untuk minuman dan masakan seisi keluarga.

Ketika memasak, sentiasa basahkan lidah dan bacakan doa ayat 200, surah Ali Imran bermaksud: “Wahai orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaran kamu, dan bersedialah serta bertakwalah kepada Allah supaya kamu berjaya.”

Diikuti pula dengan memperbanyakkan zikir ‘Ya Hayyu, Ya Quyyum, Ya Latiff dan Ya Rahman’ berulang-ulang. Semua ini insya-Allah adalah doa pelembut hati.

Begitu juga, Surah Toha ayat 1-8, surah ar-Rahman ayat 1-4 dan surah al-Insyirah dibaca dalam kegiatan lain seperti ketika menemani anak menelaah buku dan membaca al-Quran.

Bagi ibu yang bercita-cita mendapat zuriat yang baik, elok amalkan ayat 38, Surah Ali-Imran iaitu doa Nabi Zakaria bermaksud: “Ketika itu Nabi Zakaria berdoa kepada Tuhan-Nya, katanya: Wahai Tuhanku! Kurniakanlah kepadaku dari sisi-Mu zuriat keturunan yang baik; sesungguhnya Engkau sentiasa Mendengar (menerima) doa permohonan.”

Kita juga digalakkan menyentuh dengan lembut ubun-ubun anak dengan tangan kanan sambil berdoa dan menyatakan harapan. Petua membaca doa dan harapan ketika anak baru lelap kerap saya amalkan apabila anak ada masalah emosi atau tingkah laku.

Selepas solat lima waktu, saya mengamalkan doa daripada ayat 74, Surah al-Furqan bermaksud: “Dan juga mereka yang berdoa dengan berkata: Wahai Tuhan kami, berilah kami beroleh daripada isteri-isteri dan zuriat keturunan kami perkara-perkara yang menyukakan hati melihatnya, dan jadikanlah kami imam ikutan bagi orang yang (mahu) bertakwa.”

Ayat 40, Surah Ibrahim bermaksud: “Wahai Tuhanku! Jadikanlah daku orang yang mendirikan sembahyang, dan zuriat keturunanku. Wahai Tuhan kami, perkenankanlah doaku.”

Jadikanlah doa cara berkesan membentuk peribadi anak-anak. Doa itu senjata mukmin.

Sabtu, 05 Februari 2011

Bersyukur

Bersyukur (berterima kasih), kepada sesama manusia lebih cenderung kepada menunjukkan perasaan senang menghargai. Adapun bersyukur kepada Allah lebih cenderung kepada pengakuan bahwa semua kenikmatan adalah pemberian dari Allah. Inilah yang disebut sebagai syukur. Lawan kata dari syukur nikmat adalah kufur nikmat, yaitu mengingkari bahwa kenikmatan bukan diberikan oleh Allah. Kufur nikmat berpotensi merusak keimanan.
Bersyukur kepada Allah adalah salah satu konsep yang secara prinsip ditegaskan di dalam Al-Qur'an pada hampir 70 ayat. Perumpamaan dari orang yang bersyukur dan kufur diberikan dan keadaan mereka di akhirat digambarkan. Alasan kenapa begitu pentingnya bersyukur kepada Allah adalah fungsinya sebagai indikator keimanan dan pengakuan atas keesaan Allah. Dalam salah satu ayat, bersyukur digambarkan sebagai penganutan tunggal kepada Allah:
Hai orang-orang yang beriman! Makanlah di antara rezeki yang baik yang kami berikan kepadamu. Dan bersyukurlah kepada Allah jika memang hanya dia saja yang kamu sembah. (Al-Baqarah: 172)
Pada ayat lain bersyukur digambarkan sebagai lawan kemusyrikan:
Baik kepadamu maupun kepada nabi sebelummu telah diwahyukan: "Jika engkau mempersekutukan Tuhan, maka akan terbuang percumalah segala amalmu dan pastilah engkau menjadi orang yang merugi. Karena itu sembahlah Allah olehmu, dan jadilah orang yang bersyukur (Az-Zumar: 65-66)
Pernyataan menantang Iblis (pada hari penolakannya untuk bersujud kepada Adam), menegaskan pentingnya bersyukur kepada Allah:
Kemudian saya akan memperdayakan mereka dengan mendatanginya dari muka, dari belakang, dari kanan dan dari kiri. Dan Engkau tidak akan menemui lagi kebanyakan mereka sebagai golongan orang-orang yang bersyukur. (Al-A'raf: 17)
Ayat diatas menjelaskan bahwa Iblis mencurahkan hidupnya semata-mata untuk menyesatkan manusia. Tujuan utamanya untuk membuat manusia mengingkari nikmat Allah. Apabila tindakan Iblis ini direnungkan betul-betul, jelaslah bahwa manusia akan tersesat apabila mengingkari nikmat Allah.
Bersyukur kepada Allah merupakan salah satu ujian dari Allah. Manusia dikaruniani banyak kenikmatan dan diberitahu cara memanfaatkannya. Sebagai balasannya, manusia diharapkan untuk taat kepada penciptanya. Namun manusia diberi kebebasan untuk memilih apakah hendak bersyukur atau tidak:
Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari setetes air mani yang bercampur. Kami hendak mengujinya dengan beban perintah dan larangan. Karena itu kami jadikan ia mendengar dan melihat. Sesungguhnya kami telah menunjukinya jalan yang lurus: Ada yang bersyukur, namun ada pula yang kafir. (Al-Insan: 2-3)
Menurut ayat tersebut, bersyukur atau tidaknya manusia adalah tanda jelas beriman atau kafirkah ia.
Bersyukur juga berhubungan erat dengan keadaan di akhirat. Tidak ada hukuman yang dijatuhkan kepada orang beriman dan bersyukur:
Masak Allah akan menyiksamu juga jika kamu bersyukur dan beriman? Malah Allah adalah pembalas jasa kepada orang mukmin yang bersyukur serta Maha Mengetahui. An-Nisa: 147
Ayat ini bersama dengan sejumlah ayat lain memberikan berita baik kepada orang-orang yang bersyukur kepada pencipta mereka:
Dan ingat pulalah ketika Tuhanmu memberikan pernyataan: "Jika kamu bersyukur pasti Kutambah nikmatKu kepadamu; sebaliknya jika kamu mengingkari nikmat itu, tentu siksaanku lebih dahsyat. (Ibrahim: 7) Karunia itulah yang disampaikan Allah sebagai berita gembira kepada hamba-hambaNya yang beriman dan mengerjakan kebaikan. Katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepadamu atas seruanku ini, kecuali hanya kasih sayang dalam kekeluargaan. Siapa yang mengerjakan kebaikan, Kami lipat gandakan kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Penilai. (Ash-Syura: 23) Kaum Luthpun telah mendustakan peringatan Tuhan. Kami hembuskan kepada mereka angin puyuh, kecuali kaum keluarga Luth, mereka telah kami selamatkan sebelum fajar menyingsing. Suatu anugrah dari kami. Demikianlah kami memberi ganjaran kepada siapa yang bersyukur. (Al-Qamar: 33-35)
"Seandainya kalian menghitung nikmat Allah, tentu kalian tidak akan mampu" (An-Nahl: 18). Menurut ayat tersebut, jangankan menghitung nikmat, mengkategorikannya saja tidak mungkin sebab nikmat Allah tidak terbatas banyaknya. Karenanya seorang mukmin tidak seharusnya menghitung nikmat, melainkan berdzikir dan mewujudkan rasa syukurnya.
Anggapan kebanyakan orang, bersyukur kepada Allah hanya perlu dilakukan pada saat mendapatkan anugrah besar atau terbebas dari masalah besar adalah keliru. Padahal jika mau merenung sebentar saja, mereka akan menyadari bahwa mereka dikelilingi oleh nikmat yang tidak terbatas banyaknya. Setiap waktu setiap menit, tercurah kenikmatan tak terhenti seperti hidup, kesehatan, kecerdasan, panca indra, udara yang dihirup...; pendek kata segala sesuatu yang memungkinkan orang untuk hidup diberikan oleh Allah. Sebagai balasan semua itu, seseorang diharapkan untuk mengabdi kepada Allah sebagai rasa syukurnya. Orang-orang yang tidak memperhatikan semua kenikmatan yang mereka terima, dengan demikian telah mengingkari nikmat (kufur). Mereka baru mau bersyukur apabila semua kenikmatan telah dicabut. Sebagai contoh, kesehatan yang tidak pernah mereka akui sebagai nikmat baru mereka syukuri setelah mereka sakit.
Al-Qur'an memerintahkan untuk mengingat nikmat Allah berulang-kali karena manusia cenderung melupakannya. Seluruh buku yang ada di dunia ini tidak akan cukup untuk menulis nikmat Allah. Allah menciptakan manusia dalam bentuknya yang sempurna, memiliki panca indra yang memungkinkan manusia untuk merasakan dunia di sekelilingnya, membimbingnya menuju jalan yang benar melalui Al-Qur'an dan Al-Hadits, menciptakan air segar dan makanan yang berlimpah, melancarkan pelayaran, yang kesemuanya itu ditujukan untuk keuntungan manusia. Setiap orang yang berdoa dan berbuat baik pasti juga bersyukur kepada Allah sebab orang-orang yang mengingkari nikmat Allah pasti juga tidak pernah ingat kepada Allah. Seseorang yang bertingkah laku seperti hewan, mengkonsumsi segala sesuatu yang diberikan padanya tanpa mau berfikir mengapa semua itu dianugrahkan dan siapa yang menganugrahkan, sudah selayaknya mengubah tingkah laku seperti itu. Sebaliknya, bersyukur hanya di saat menerima nikmat besar saja tidak akan berarti. Itulah sebabnya orang mukmin hendaknya tidak pernah lupa untuk bersyukur kepada Allah.
Dari Al-Qur'an kita juga tahu bahwa hanya orang-orang yang bersyukurlah yang mau mengakui tanda-tanda kekuasaan Allah di dunia dan mengambil pelajaran darinya. Ayat-ayat di bawah ini menguraikan hal tersebut:
Adapun tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh dengan subur dengan izin Allah. Dan tanah yang gersang, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah kami menjelaskan tanda-tanda kebesaran kami bagi orang-orang yang bersyukur. (Al-A'raf: 58)
Dan sesungguhnya kami telah mengutus Musa kepada Bangsa Israil, dengan beberapa mukjizat dari kami sebagai pengukuhan dan disertai perintah dari Kami: "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kejahilan kepada cahaya iman yang terang-benderang, serta ingatkanlah mereka kepada "Hari-hari Allah"(Maksudnya, hari-hari yang penuh suka dan duka. Suka karena beroleh bahagia, dan duka karena ditimpa malapetaka, baik yang telah terjadi pada bangsa-bangsa sebelum Musa, maupun yang terjadi di zaman Musa sendiri). Dalam hal yang demikian terdapat tanda-tanda kekuasaan Tuhan bagi orang-orang yang selalu sabar dan bersyukur Maksudnya sabar jika kedatangan malapetaka, dan bersyukur jika beroleh kebahagiaan. Baik dan buruk, bahagia dan malapetaka tidak akan luput dari kehidupan manusia di dunia ini. Karena itu, sabar dan bersyukur adalah senjata ampuh yang wajib dipegang teguh selamanya)(Ibrahim: 5).
Apakah engkau tidak perhatikan, bahwa kapal itu dapat berlayar di lautan karena Karunia Allah jua Karunia Allah di sini ialah kodratNya yang menundukkan lautan dan angin, supaya kapal-kapal layar dapat berlayar di lautan), untuk diperlihatkanNya kepadamu di antara tanda-tanda kekuasaanNya. Dalam hal ini terdapat bukti-bukti kenyataan bagi semua orang yang sabar dan bersyukur. (Luqman: 31).
Namun begitu mereka berkata: "Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak hubungan antara kami dan Syria" (Tujuan permintaan ini supaya negeri-negeri yang berdekatan itu dihapuskan, agar jarak perjalanan menjadi jauh dan panjang, sehingga terbuka kesempatan untuk melakukan monopoli dalam perdagangan) Itu berarti mereka menganiaya diri sendiri. Karena itu Kami jadikan peristiwa mereka jadi buah tutur, lalu kami ganyang mereka sehancur-hancurnya. Peristiwa ini seharusnya menjadi pelajaran bagi setiap yang sabar dan bersyukur. (Saba: 19)
Hikmah maupun bukti yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang dikaruniai wawasan dan kepekaan yang biasa dimiliki oleh orang-orang yang bersyukur.
Wawasan dan kepekaan tersebut merupakan balasan atas rasa syukur kepada Allah. Sebaliknya orang-orang yang ingkar dan tidak peka, untuk memperhatikannya pun mereka enggan.
Di dalam banyak ayat, Allah menasehati para rasulNya. Salah satunya adalah Musa, untuk bersyukur:
Allah berfirman: "Hai Musa! Sesungguhnya Aku telah memilihmu melebihi dari manusia yang lain untuk mengemban tugas kerasulan-Ku dan untuk berbicara secara langsung dengan-Ku. Oleh karena itu, pegang teguhlah Syari'at yang Aku berikan kepadamu, dan hendaklah engkau menjadi orang yang bersyukur. (Al-A'raf: 144)
Di dalam surat Al-Ahkaf ayat 15, seorang mukmin di dalam kematangannya (umur 40 tahun diacu di dalam Al-Qur'an sebagai umur kematangan), berdoa supaya dijadikan orang yang bersyukur:
Kami perintahkan kepada manusia supaya: Berbuat baik kepada kedua ibu-bapak. Ibunya mengandung dan melahirkannya dengan susah payah. Mengandung sampai dengan menyapihnya, tigapuluh bulan (Dihitung menurut masa kandungan yang terpendek, yaitu enam bulan. Ditambah dengan masa penyusuan yang sempurna yaitu duapuluh empat bulan (2 tahun), menjadi tigapuluh bulan). Sehingga manakala ia sampai dewasa, usianya cukup empatpuluh tahun, dia mendoa: "Ya Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku bagaimana mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu-bapakku. Jadikanlah amal perbuatanku sesuai dengan keridhaanMu dan berikanlah kebaikan kepadaku berkelanjutan sampai kepada anak-cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepadaMu, dan aku adalah orang yang berserah diri. (Al-Ahkaf: 15)
Diterjemahkan dari buklet "The Basic Concepts in The Qur'an" karya Harun Yahya www.harunyahya.com. Terjemahan Al-Qur'an dikutip dari "Terjemah dan Tafsir Al-Qur'an" susunan Bachtiar Surin terbitan Fa. SUMATRA. Bandung.